Selasa, 26 Juni 2012

Lewat Djam Malam

Semalam saya sama teman-teman saya akhirnya nonton film lawas karya Oesmar Ismail yang berjudul, "Lewat Djam Malam". Film keluaran tahun 1955 yang sudah susah payah direstorasi harus sesegera mungkin dinikmati donk. 
Saya sama 6 teman saya lainnya nonton di Blitzmegaplex teraskota jam 9.40. Nuansa Lewat Djam Malamnya benar-benar terasa banget. ahahah. Pilihan waktu nonton tersebut bukan atas dasar kesengajaan apalagi gegayaan, semua itu lantaran minimnya jam tayang film ini. Untuk di Blitzmegaplex sendiri aja hanya ada di Blitz GI dan blitz Teraskota BSD. Pilihan jam tayangnya lebih menyedihkan lagi yaitu, jam 12.30 dan jam 9.40.
Entah karena emang kita nontonnya hari Senin malam atau karena memang film ini kurang banget promosinya, malam itu penonton yang juga menyaksikan bareng kita tuh cuman 3 orang. Jadi total ada 9 penonton di Studio 7 Blitzmegaplex malam itu. Lumayan sedikit sih, bahkan sedikit banget menurut saya, sepanjang sejarah saya nonton film baru kali itu saya nonton dengan jumlah penonton yang sesedikit itu.
Tapi justru dengan sedikitnya penonton gak bikin menghilangkan keria-an kita nonton film ini. Mungkin akibat sudah berbulan-bulan lamanya kita gak ngobrol bareng, atau memang segitu butuhnya "a break" dari tumpukan analisis dan teori yang 6 juli ini bakal dikumpulin, yang pasti, Film yang menurut saya sebenernya "biasa aja" bisa jadi "menghibur banget buat kita".
Sepinya penonton membuat kita bebas ngomentarin segala hal yang terjadi di film. Dari mulai bahasa yang uar biasa jadulnya
"Studen? Apa bagusnya jadi Studen seperti kau? Kerja kejar buntut kebaya wanita saja"
"Sudah habis kita digasak oleh orang asing itu"
"Pahit!"
"Semua belagak jadi kawan selama keadaan masih aman"
dan sebagainya (ya kira-kira gitulah, berdasarkan apa yang saya ingat)
Semua percakapan dengan gaya lawas yang sebenernya gak lucu itu jadi sangat menghibur buat kita, ditambah lagi saat film masuk pada bagian Laila dan Puja yang benar-benar ice breaker. "Pak Is mau ya belikan saya ini?". "Setengah".

Laila sang Prostitute yang fenomenal dengan quotesnya "Laki-laki kalau sudah keluar rumah siapa yang tahu dia akan kembali"
Puja, Salah satu kawan perjuangan Iskandar dan Germo dari Laila
Iskandar, mantan pejuang yang tidak sanggup hidup tanpa revolusi, diperankan dengan sangat tampan oleh A.N Alcaff

FASHION DAN GAYA HIDUP
Seorang teman yang sudah menonton bilang "gw tuh berharap banget ada media yang nonton film ini dan ngangkat gimana oke nya fashion jaman itu".
Dan setelah saya nonton saya pun berpikir sama. Bakalan oke banget kalo ada majalah fashion ibuota yang mau ngomongin baju-baju yang dikenakan Norma dan teman-teman saat di malam pesta.
Tapi lebih dari itu, saya sendiri memiliki keterkaitan gimana caranya orang-orang pada zaman itu mengadakan pesta. Sebuah pesta yang benar-benar dipandu oleh "pemandu pesta" untuk bermain, bernyanyi, dan berdansa, semua waktu-waktunya ada yang mengatur. Membuat suasana pesta lebih seperti acara games yang runutnya harus diikuti. Tapi ternyata ya gitu, gaya hidup kalangan expartriat tahun 1955 sama zaman sekarang kiblatnya masih sama, ke gaya hidup orang-orang barat. Gak ada yang salah sih, cuman saya expecting sesuatu yang lebih Indonesia apalagi film ini dibuat pada tahun-tahun awal kemerdekaan. Gitu.

Tapi over all, film ini sih, dari segi cerita masih lebih bercerita ketimbang film Soegija (dan hal ini gak menempatkan siapa yang lebih bagus atau lebih buruk kok, sama ajalah :DD)

oh ya quotes favorite saya: "Siapa yang tidak kuat menahan kelampauan, dia akan hancur". "Biarlah apa yang terjadi di masa revolusi, hidup di masa revolusi"... karena kata-kata itu seperti mengingatkan saya "What happen from the past, belong to the past, nothing you can do about it for the future"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar