Tampilkan postingan dengan label i heart.... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label i heart.... Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Maret 2011

Nabi Palsu, Sikap Nabi, dan Ahmadiyah)*

*ini sengaja saya kopas karena menurut saya keren banget isinya gak ada salahnya teman-teman juga baca :)*

Rabu, 16 Februari 2011 | 07:12 WIB

TEMPO Interaktif, Pada tahun kesepuluh Hijriah, Nabi Muhammad SAW menerima surat dari seseorang yang mengaku jadi nabi. Namanya Musailamah bin Habib, petinggi Bani Hanifah, salah satu suku Arab yang menguasai hampir seluruh kawasan Yamamah (sekarang sekitar Al-Riyad). Dalam suratnya, Musailamah berujar: “Dari Musailamah, utusan Allah, untuk Muhammad, utusan Allah. Saya adalah partner Anda dalam kenabian. Separuh bumi semestinya menjadi wilayah kekuasaanku, dan separuhnya yang lain kekuasaanmu….”

Seperti dituturkan ahli tafsir dan sejarawan muslim terkemuka pada abad ketiga Hijriah, Imam Ibn Jarir Al-Tabari (838-923), dalam kitabnya Tarikh al-Rusul wa al-Muluk (Sejarah Para Rasul dan Raja) atau yang dikenal sebagai Tarikh al-Tabari, Musailamah bukanlah sosok yang sepenuhnya asing bagi Nabi. Beberapa bulan sebelum berkirim surat, Musailamah ikut dalam delegasi dari Yamamah yang menemui beliau di Madinah dan bersaksi atas kerasulannya. Delegasi inilah yang kemudian membawa Islam ke wilayah asal mereka dan membangun masjid di sana.

Menerima surat dari Musailamah yang mengaku nabi, Rasul tidak lantas memaksanya menyatakan diri keluar dari Islam dan mendirikan agama baru, apalagi memeranginya. Padahal gampang saja kalau beliau mau, karena saat itu kekuatan kaum muslim di Madinah nyaris tak tertandingi. Mekah saja, yang tadinya menjadi markas para musuh bebuyutan Nabi, jatuh ke pelukan Islam. Yang dilakukan Rasul hanyalah mengirim surat balasan ke Musailamah:

“Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah dan Pengasih. Dari Muhammad, utusan Allah, ke Musailamah sang pendusta (al-kazzab). Bumi seluruhnya milik Allah. Allah menganugerahkannya kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Keselamatan hanyalah bagi mereka yang berada di jalan yang lurus.”

Rasul menempuh dakwah dengan cara persuasi dan bukan cara kekerasan. Musailamah memang dikutuk sebagai al-Kazzab, tapi keberadaannya tidak dimusnahkan.

Namun, setelah Nabi wafat, ceritanya jadi lain. Umat Islam yang masih shocked karena ditinggal pemimpinnya berada dalam ancaman disintegrasi. Sejumlah suku Arab menyatakan memisahkan diri dari komunitas Islam di bawah pimpinan khalifah pertama, Abu Bakr al-Shiddiq. Sebagian dari mereka mengangkat nabi baru sebagai pemimpin untuk kelompok mereka sendiri. Musailamah dan sejumlah nabi palsu lain, seperti Al-Aswad dari Yaman dan Tulaikhah bin Khuwailid dari Bani As’ad, menyatakan menolak membayar zakat, suatu tindakan yang pada masa itu melambangkan pembangkangan terhadap pemerintah pusat di Madinah.

Abu Bakr lalu melancarkan ekspedisi militer untuk menumpas gerakan pemurtadan oleh para nabi palsu tersebut, yang menurut dia telah merongrong kedaulatan khalifah dan membahayakan kesatuan umat. Perang Abu Bakr ini dikenal sebagai “perang melawan kemurtadan (hurub al-ridda).”

Tampaknya, “perang melawan kemurtadan” inilah yang diadopsi begitu saja oleh para pelaku kekerasan terhadap Ahmadiyah tanpa disertai pemahaman yang mumpuni terhadap duduk perkaranya. Penyerangan brutal di Banten minggu lalu, yang menewaskan tiga warga Ahmadiyah, secara luas memang telah dikecam bahkan oleh banyak kalangan muslim sendiri, entah dengan alasan menodai citra Islam yang damai, merusak kerukunan beragama, atau melanggar hak asasi kaum minoritas. Tapi bagi para pelaku penyerangan dan yang membenarkannya, seperti FPI, apa yang mereka lakukan semata-mata demi membela Islam dari noda pemurtadan. Jemaah Ahmadiyah dianggap telah murtad karena mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, dan karena itu mesti dikeluarkan secara paksa dari Islam.

Ironisnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Menteri Agama, dan pihak-pihak yang mengaku tidak menyetujui anarkisme terhadap Ahmadiyah, yang terus memaksa agar Ahmadiyah menjadi agama baru di luar Islam, sebenarnya juga memakai pendekatan “perang melawan kemurtadan” secara gegabah. Dalam hal ini, perbedaan MUI dan Menteri Agama dengan kaum penyerang Ahmadiyah hanya terletak dalam hal metode, tapi tidak dalam tujuan. Saya sebut ironis karena majelis ulama, yang berlabel “Indonesia” di belakang, ternyata merubuhkan prinsip kebinekaan Indonesia. Ironis karena seorang menteri yang merupakan hasil pemilu demokratis ternyata mempunyai pandangan yang melenceng dari konstitusi demokratis yang menjamin hak setiap warga menjalankan agama sesuai dengan keyakinannya. Yang paling ironis, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membiarkan saja semua itu terjadi.

Lepas dari itu, kalau kita tinjau dari sudut doktrin dan sejarah Islam pun, pemakaian kerangka “perang melawan pemurtadan” untuk menyikapi Ahmadiyah sejatinya sama sekali tak berdasar. Patut diingat, sebutan “perang melawan kemurtadan” bukanlah kreasi Abu Bakr sendiri, melainkan penamaan belakangan dari para sejarawan muslim. Disebut demikian barangkali karena yang diperangi saat itu memang arus pemurtadan yang terkait dengan munculnya sejumlah nabi palsu. Dan gerakan nabi palsu pada masa itu berjalin berkelindan dengan upaya menggembosi kedaulatan kekhalifahan. (lalu muncul pertanyaan di otak kecil saya, apakah kemunculan ahmadiyah menghancurkan kedaulatan Indonesia?-red)

Penolakan membayar zakat bukan hanya pelanggaran terhadap rukun Islam, tapi juga sebentuk aksi makar. Ini karena, berbeda dengan ibadah salat yang hanya melulu menyangkut hubungan hamba dan Tuhannya, urusan zakat berkaitan dengan negara. Tambahan pula, para nabi palsu tersebut juga membangun kekuatan militernya sendiri. Musailamah, misalnya, menggalang tidak kurang dari 40 ribu anggota pasukan untuk melawan pasukan muslim dalam perang Yamamah, sampai-sampai armada muslim di bawah Khalid bin Walid sempat kewalahan pada awalnya. Karena itu, perang Abu Bakr melawan kemurtadan mesti dibaca sebagai sebuah tindakan yang lebih bersifat politis ketimbang teologis, yakni berhubungan dengan penumpasan terhadap kelompok pemberontak.

Karena itu, “perang melawan kemurtadan” versi khalifah Abu Bakr tidak bisa begitu saja diterapkan dalam konteks Indonesia sekarang. Taruhlah memang jemaah Ahmadiyah telah murtad karena mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Tapi bukankah sejauh ini mereka belum pernah membangun kekuatan militer untuk merongrong umat Islam dan pemerintahan yang sah seperti Musailamah pada masa khalifah Abu Bakr? Bukankah sejauh ini warga Ahmadiyah hanya menuntut untuk diberi ruang menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya? Kalau memang begitu, apakah tidak keliru kalau mereka diperlakukan seperti para pemberontak? (pertanyaan pun terjawab)

Ditinjau dari perspektif kaidah fiqh “hukum berporos pada alasan”, gerakan pemurtadan oleh para nabi palsu pada masa Abu Bakr memang wajib diperangi, karena saat itu kemurtadan identik dengan pemberontakan yang mengancam kedaulatan khalifah dan integrasi umat. Adapun kalau sekadar murtad saja tanpa dibarengi pemberontakan, hukum yang berlaku tentu tidak sama. Pada titik inilah kita bisa mengacu pada peristiwa korespondensi antara Nabi Muhammad dan Musailamah seperti saya paparkan di awal tulisan.

Di sinilah pemahaman tentang metodologi hukum Islam mutlak diperlukan dalam melihat pokok soalnya. Tanpa pengetahuan yang mumpuni tentang metodologi hukum Islam, keputusan yang muncul dan tindakan yang diambil mungkin saja tampak sesuai dengan ajaran syariat, tapi bisa jadi esensinya bertentangan dengan maqashid al- syari’ah (tujuan-tujuan syariat) yang lebih bersifat universal, seperti perlindungan terhadap hak-hak dasar manusia.

Lagi pula, satu-satunya dalil Al-Quran tentang kemurtadan sama sekali tidak menyeru kaum muslim untuk memerangi kaum murtad semata-mata karena kemurtadannya. Simaklah Surat Ali Imran ayat 90. Ayat ini tidak menyinggung soal perlunya menggunakan cara-cara kekerasan dan paksaan terhadap si murtad, karena Tuhanlah yang akan menjadi hakim atas perbuatannya di akhirat nanti.

Dalam kerangka Qurani semacam inilah kita bisa mengerti kenapa Nabi tidak menghukum Musailamah, yang tanpa tedeng aling-aling mengaku sebagai nabi. Bukan karena beliau mendiamkannya--toh Nabi melabelinya dengan gelar “Al-Kazzab”. Menurut saya, nabi bersikap seperti itu karena, dalam Al-Quran, hukuman terhadap si murtad memang sepenuhnya menjadi hak prerogatif Allah SWT. Nabi Muhammad hanyalah seorang manusia biasa yang bertugas menyampaikan risalah Ilahi. Beliau bukan Tuhan yang turun ke bumi. Itulah sebabnya Al-Quran menegaskan tidak ada paksaan dalam agama.

Kalau Nabi saja demikian sikapnya, alangkah lancangnya Front Pembela Islam (FPI), MUI, dan Menteri Agama yang merasa punya hak untuk mengambil alih wewenang Tuhan untuk mendaulat diri mereka sebagai hakim atas orang-orang yang dianggap murtad seperti terlihat dalam sikap mereka terhadap jemaah Ahmadiyah. Di sinilah saya kira umat Islam mesti memilih dalam bersikap, mau mengikuti cara-cara FPI, MUI, dan Menteri Agama, atau meneladan sikap Rasulullah.

*)
Akhmad Sahal, Kader NU, kandidat PhD Universitas Pennsylvania

http://www.tempointeraktif.com/hg/kolom/2011/02/16/kol,20110216-324,id.html


*Niatnya saya sih mau bikin tulisan kayak gini buat tugas Jurnalisme Online saya yang soal Ahmadiyah di Indonesia, tapi yaa sudahlah biarkan kandidat PhD Universitas Pennsylvania duluan deh yang bikin tulisan sekeren ini*aduh apasih gw* :P

Sabtu, 11 Desember 2010

new member, new activity


Yeeeee, saya baru saja beli gitar. Saya gak tahu kalo saya bakalan se-excited ini punya gitar. (saya kan udah bilang saya tuh lagi dalam area buta, gak tahu apa yang sama mau!).


Jadi gini lho ceritanya!


adik saya yang ganteng itutuhh, kan baru aja didaftarin les drum di tempat les musik dekat rumah. (namanya fania musik BSD)

Nah, maka, tadi tuh tencananya ke gunung agung BSD Plaza (mall tertua di BSD, se-usia sayalah kira-kira) buat beli stik drumnya.

Sembari adik saya beli stik drum, saya liat-liat gitar sama ayah saya.

Ayah saya naksir sebuah gitar, saya sok ikut-ikutan tertarik, mama saya tapi gak suka.

"Ih, mama gak suka ah gitarnya kayak gitu! kalo mau beli gitar sekalian yang bagus aja deh. nihh, kayak yang ini nih" sambil memegang dan sok-sok memetik senar sebuah gitar akustik.

Saya cuman bisa "zzzzzzz" doank, soalnya saya kan baru-mau-tertarik-akan belajar gitar, masak langsung beli yang akustik sih.

Mama saya tuh kalo udah bilang gak suka, gak pengen, itu artinya selesai cerita. Gak ada lagi bersambung ke season 6 macam cinta fitri.

Tapi saya emang agaknya pengen juga beli gitar dan belajar main gitar, saya sih gak tahu apakah halal hukumnya seorang sotoy berotak kosong macam saya belajar gitar langsung pake gitar akustik? rasanya enggak sih! Tapi tadi itu saya lagi males banget berdebat kosong sama mama saya tapi juga pengen ngejelasin ke mama "kalo gitar akustik itu bagus tapi saya belum bisa maininnya". Jadi untuk menghindari perbincangan lama dan gak bermanfaat saya panggil aja mas-mas nya..

"Mas.." saya manggil.

"iyaa" mas menjawab sambil menyibakkan ramutnya (eh tapi dia gak punya rambut deh kayaknya)

"saya kan baru mau belajar gitar, bagusnya pake gitar yang mana ya?"

"oh yang ini aja mba!" ujar mas-masnya sambil mengangkat sebuah gitar classic yamaha, seraya Raja Arthur mengangkat pedang excalibur dari batu (ini lebay bgt dah!).

Dah! masalah kelar, gitar classic for dummies pun di beli.
eheheh.

tapi yang sebenarnya mau saya ceritakan pada malam ini bukanlah soal pembelian gitar ini.
masalah sebenarnya adalah preferensi saya terhadap sesuatu sifatnya sangat fluktuatif.

Maksudnya adalah seperti, Malam ini saya bahagia banget punya gitar, bahkan saya kasih nama marlyn. Saya beli buku belajar gitar otodidak. Didalam hati semangat dan niat berkobar-kobar.
Sayangnya, saya tahu semangat ini hanya terjadi dalam waktu yang singkat.
Kenapa saya bisa tahu?
karena buku-buku ini adalah saksinya





  1. ada buku TOEFL untuk kalangan kuliah dan SMA. Saya beli waktu libur panjang semester 2. Saya beli karena saya liburan gak ngapa2in, mama saya nyuruh saya les bahasa inggris, saya ogah mending beli buku TOEFL saya belajar dirumah. Waktu beli saya semangat banget. Yakin kelar liburan pengetahuan dan tata bahasa inggris lebih terlihat cerdas. Namun kenyataannya, selesai dibeli saya buka bukunya. Saya takjub sama covernya yang bagus. Saya coba taro di rak buku. Ya Tuhan, indahnya buku itu kalau dipajang disana. Maka, disaat itulah saya gak pernah berfikir untuk memindahkannya. Terlalu cantik untuk di baca.


  2. Buku "Mudah melakukan percakapan bahasa Perancis sehari-hari" pengarangnya orang Perancis. Buku ini juga saya beli waktu saya lagi liburan. Lagi-lagi ibu saya nyuruh saya les bahasa asing selain bahasa inggris. Beliau ampe nanya-nanya, "kamu suka bahasa apa? nanti kita sama-sama cari tempat lesnya". Saya tahu saya gak tertarik. Dan lagi-lagi percakapan kosong yang panjang terjadi antara ibu dan anak. Si anak tidak menang begitupula ibunya. Jalan tengahnya sebuah buku lagi dibeli untuk menambah wawasan saya lengkap dengan CD nya. Selesai liburan ibu dan saya sendiri berharap bisa langsung ngobrol sama bule prancis. Tapi nyatanya, nonsense. Tapi setidaknya nasibnya masih lebih baik daripada si buku TOEFL. CD si buku perancis masih sempat saya buka di leptop, saya kopi ke hardisk, saya dengerin di MP3. Satu sampai dua jam saya masih menikmati kebingungan saya meniru bule sangau ini, tapi 3 jam kemudian saya lebih milih dengerin keti peri yang ngebet bgt liat "peacock" di playlist mp3.


  3. Buku manipulasi foto, waaaahhh buku jelas yang pake nawaytu (bahasa indonesia: niat) waktu belinya. Saya waktu SMA emang hobi banget ngoprek fotoshop, foto2 frenster saya sengaja saya ubah jadi gloomy labil najis bgt deh biar dibilang EMO (Fak abis!) (untung masa-masa frenster ibu bapak saya gak ikutan bikin juga, kalo enggak mereka pasti udah nganggep saya pengikut setan). Nah, 2 tahun berlalu, saya rindu ngedit ala ALAY SMA, soalnya udah banyak yang lupa. Maka saya beli lah buku ini. Ahhh, sayangnya, buku ini cuman ngajarin beberapa trik, sebagian udah saya ketahui dari kelas arbain rambey. Bisa dibilang saya gak baca buku ini lagi karena saya lebih pintar dari buku ini, ahahahahaha (sumpah bangga banget loh!)


  4. Nah, yang paling ujung itulah buku panduan saya mempelajari gitar. Isinya lagu-lagu Indonesia yang enggak saya kenal. Tapi yang saya suka dari buku ini, selain kort nya di gambar pake skema, di buku ini juga ada foto deskripsi posisi tangan. Bener-bener buku panduan gitar for dummies bgt deh! nahh, umur si buku ini saya gak tahu ampe berapa lama. Akankah dia menjadi buku non-formal pertama saya yang saya serap ilmunya hingga semaksimal mungkin? atau akankah dia menyesatkan saya ditengah kebingungan? saya masih belum bisa prediksi itu. Semua itu tergantung mood saya yang labilnya naudzubilah daaaaahh!


Yang pasti selain kehadiran barang baru ini, memaksa saya meluangkan waktu untuk sekedar gonjrang gonjreng kisan kunci A-D-G-C yang saya sendiri belum tahu lagu apa itu (soalnya bisanya itu doank!)

Kayak kehadiran kamera SLR 450D (namanya felix) dalam hidup saya, dia langsung menjebak saya kepada dunia fotografi yang abstrak (gak semudah esekusinya lho teman ;)) saya jadi terjebak di GFJA juga gara-gara punya kamera ini. Dan anehnya saya seneng bgt!

Ahh, semoga begitupula dengan nona Marlyn ini, semoga kehadirannya membuat saya terjebak kedalam aktifitas yang menyenangkan pula :)

Senin, 03 Mei 2010

Anna Wintour

Ada yang tau majalah VOGUE (the world's most influential fashion magazine)? tau donk? tau kan?




Nah, kalo sudah tau saya mau memperkenalkan (yahh, saya tahu tanpa saya perkenalkan seluruh dunia sudah mengenal dia) sosok wanita yang ada dibalik majalah Vogue. Anna Wintour.



Memang rada sulit untuk memisahkan antara VOGUE dengan Anna Wintour. Karena memang semenjak bergabung dan menjadi editor in-chief Anna Wintour dengan American Vogue, pada tahun 1988, Anna (sok kenal) selalu menjaga status majalah Vogue selalu Tinggi (high) dan reputasi yang baik dalam publikasi fashion. Sejak pemindahan tangan dari Grace Mirabella ke Anna Wintour, Vogue lebih fokus pada ide-ide fashion yang terbaru dan mudah dijangkau audiens yang lebih luas.




Anna Wintour, kelahiran London, 3 November 1949. Anna mulai memasuki Fahion Journalism (ya Tuhan saya juga mau masuk ke ranah ini! tolong bimbing jalannya) pada tahun 1970, saat Harpers Bazaar bergabung dengan majalah Queen menjadi Harper's & Queen. Dan majalah itu membutuhkan Asisten redaksi. Hingga pada tahun 1988 dia menjadi editor-in-chief dari majalah VOGUE.
Selama bertahun-tahun lamanya, Anna Wintour menjadi orang yang paling berpengaruh di dunia Fashion. Gimana enggak?Anna bekerja dibelakang layar untuk para rumah mode untuk memperkerjakan orang-orang yang lebih muda. Contohnya seperti John Galiano yang berutang posisi di Christian Dior, dan juga Anna Wintour pernah meyakinkan Donald Trump untuk membiarkan Marc Jacob (ohh yeahh, em-ei-ar-si, marc!) untuk menggunakan sebuah ballroom di Hotel Plaza.

Anna Wintour With Karl Lagerfield!


"well, you can make a film in Hollywood without Steven Spielbers's blessing, you can sell publish software in Sillicon Valley without Bill Gates's blessing, but its preety clear to me that you can't succeed in the fashion industry without Anna Wintour's blessing" Ujar R.J Cutler, director of September Issue.

Yahhh, segitu saja kesotoyan saya soal Anna. Tapi, saya pribadi sangat mengagumi Anna Wintour ini. Personal branding yang sangat kuat dengan kacamata dan rambut nge-bob, elegan dengan chanel suitnya, dan segala kegeniusannya deh! Pokoknya oke banget lah (banyak juga ya? wahh gak nyangka saya beigtu pintar! *padahal modal google doank, ngek!)

next issue: Denzel Washington

Selasa, 27 April 2010

Krysten Ritter

dari awal film "Confession of Shopaholic" saya langsung jatuh cinta sama Kryten Ritter yang berperan sebagai Suze sahabat dari Rebecca Bloomwood (yang diperankan oleh Isla Fisher)

Karena apa coba? karena mukanya unik banget dan pakaiannya yang Krysten kenakan di film itu, jujur aja, menurut saya lebih keren daripada si Bloomwood.
Krysten Ritter yang pake gaun pengantin, cantik ya? huhuhu, sangat ngefans

Biography singkat tentang Kryten Alice Ritter. Cewe kelahiran 16 Desember 1981 (Sagitarius, hehe) mengawali karir nya sebagai model


Jadi menurut wikipedia (yang saya pribadi meragukan kebnaranya, tapi sulit mengelak bahwa situs ini paling sering dijadikan sumber informasi), Krysten Ritter mengawali karirnya dari umur 15 tahun. Ritter mengambarkan dirinya as "Tall, Gawky, Akward, and really really skinny" (oh my god gw mau bgt kayak gitu. Berikut foto hasil sweepingan dari google




next issue: Anna Wintour