Minggu, 01 Mei 2011

Easy, Dude!


Seriously...
i know, we getting older, smarter, bigger, snob, smile, love, hate, sick, fine, happy, sad, frustrated, confused, blank, hello, goodbye, see ya, love ya, I KNOW WE ARE CHANGE!

Dad:"you can change the nature" Nemo: "Change is Nature" ~ Finding Nemo

So, people, easy, relax, calm down, chill out!!

I see people changing, even myself is change.

in the mirror, i see flat nose lady with super-wide face, her skin getting dark, her thigh are getting high (fat), inside those ugly appearance she still have no idea with the future on her mind, one thing she know she going to pregnant someday and live high at New York.
The question is... How she get that? Zero Idea.

All she know, she have ambition without preparation!
She have to hunt without a gun.
She is stuck with something that she can't left behind... she is stuck in her little "sex and the city" dream, she is trapped on "confession of shop-a-holic" drama, she really want "devil wears prada" so, maybe she can make "30 going to 13".... SHE WANT MAGAZINE-FASHION-AND BIG APPLE

When all the people chasing for the best they can do for todays drama, she is walking on broken roof look up the sky...

her dream change her body into (something called) fat-ass-lazy-mooron
while everybody change their body and their dream...

NB: SERIOUSLY!!! THIS IS SO MOTHERFUCKING RANDOM POST.... I'M QUITE DEPRESSED WHEN I'M WAKE UP ELEVEN IN SUNDAY MORNING, SEE MY UNSEXY "GUTS", AND I FEEL LIKE A CRAP, BECAUSE I'M NOT THAT BUSY TO LOSING MY FAT!!!! SERIOUSLY, I DON'T KNOW WHAT I'M TALKING ABOUT RIGHT NOW!! HOPE YOU HAVE THE BLESS AND THE BEST WEEKEND PEOPLE...SE YAAA..


BKDFJGAWRAWJDSF

Kamis, 28 April 2011

emotionless

udah lama gak nulis di blogspot.

bukan karena saya males sih.

bukan pula karena saya lagi sibuk.

saya lagi emotionless.

saya gak tau, apakah term kata emotionless itu bener-bener eksis atau enggak.

tapi sekiranya itulah yang lagi saya rasain.

saya begini bukan karena saya lagi boring atau hari saya lagi gak garing.

saya cuman gak menaruh sedikitpun simpati di tiap memori yang saya lalui.

saya tidak lagi sakit, saya juga gak lagi sedih.

saya cuman sedikit emotionless.

Kamis, 17 Maret 2011

Nabi Palsu, Sikap Nabi, dan Ahmadiyah)*

*ini sengaja saya kopas karena menurut saya keren banget isinya gak ada salahnya teman-teman juga baca :)*

Rabu, 16 Februari 2011 | 07:12 WIB

TEMPO Interaktif, Pada tahun kesepuluh Hijriah, Nabi Muhammad SAW menerima surat dari seseorang yang mengaku jadi nabi. Namanya Musailamah bin Habib, petinggi Bani Hanifah, salah satu suku Arab yang menguasai hampir seluruh kawasan Yamamah (sekarang sekitar Al-Riyad). Dalam suratnya, Musailamah berujar: “Dari Musailamah, utusan Allah, untuk Muhammad, utusan Allah. Saya adalah partner Anda dalam kenabian. Separuh bumi semestinya menjadi wilayah kekuasaanku, dan separuhnya yang lain kekuasaanmu….”

Seperti dituturkan ahli tafsir dan sejarawan muslim terkemuka pada abad ketiga Hijriah, Imam Ibn Jarir Al-Tabari (838-923), dalam kitabnya Tarikh al-Rusul wa al-Muluk (Sejarah Para Rasul dan Raja) atau yang dikenal sebagai Tarikh al-Tabari, Musailamah bukanlah sosok yang sepenuhnya asing bagi Nabi. Beberapa bulan sebelum berkirim surat, Musailamah ikut dalam delegasi dari Yamamah yang menemui beliau di Madinah dan bersaksi atas kerasulannya. Delegasi inilah yang kemudian membawa Islam ke wilayah asal mereka dan membangun masjid di sana.

Menerima surat dari Musailamah yang mengaku nabi, Rasul tidak lantas memaksanya menyatakan diri keluar dari Islam dan mendirikan agama baru, apalagi memeranginya. Padahal gampang saja kalau beliau mau, karena saat itu kekuatan kaum muslim di Madinah nyaris tak tertandingi. Mekah saja, yang tadinya menjadi markas para musuh bebuyutan Nabi, jatuh ke pelukan Islam. Yang dilakukan Rasul hanyalah mengirim surat balasan ke Musailamah:

“Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah dan Pengasih. Dari Muhammad, utusan Allah, ke Musailamah sang pendusta (al-kazzab). Bumi seluruhnya milik Allah. Allah menganugerahkannya kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Keselamatan hanyalah bagi mereka yang berada di jalan yang lurus.”

Rasul menempuh dakwah dengan cara persuasi dan bukan cara kekerasan. Musailamah memang dikutuk sebagai al-Kazzab, tapi keberadaannya tidak dimusnahkan.

Namun, setelah Nabi wafat, ceritanya jadi lain. Umat Islam yang masih shocked karena ditinggal pemimpinnya berada dalam ancaman disintegrasi. Sejumlah suku Arab menyatakan memisahkan diri dari komunitas Islam di bawah pimpinan khalifah pertama, Abu Bakr al-Shiddiq. Sebagian dari mereka mengangkat nabi baru sebagai pemimpin untuk kelompok mereka sendiri. Musailamah dan sejumlah nabi palsu lain, seperti Al-Aswad dari Yaman dan Tulaikhah bin Khuwailid dari Bani As’ad, menyatakan menolak membayar zakat, suatu tindakan yang pada masa itu melambangkan pembangkangan terhadap pemerintah pusat di Madinah.

Abu Bakr lalu melancarkan ekspedisi militer untuk menumpas gerakan pemurtadan oleh para nabi palsu tersebut, yang menurut dia telah merongrong kedaulatan khalifah dan membahayakan kesatuan umat. Perang Abu Bakr ini dikenal sebagai “perang melawan kemurtadan (hurub al-ridda).”

Tampaknya, “perang melawan kemurtadan” inilah yang diadopsi begitu saja oleh para pelaku kekerasan terhadap Ahmadiyah tanpa disertai pemahaman yang mumpuni terhadap duduk perkaranya. Penyerangan brutal di Banten minggu lalu, yang menewaskan tiga warga Ahmadiyah, secara luas memang telah dikecam bahkan oleh banyak kalangan muslim sendiri, entah dengan alasan menodai citra Islam yang damai, merusak kerukunan beragama, atau melanggar hak asasi kaum minoritas. Tapi bagi para pelaku penyerangan dan yang membenarkannya, seperti FPI, apa yang mereka lakukan semata-mata demi membela Islam dari noda pemurtadan. Jemaah Ahmadiyah dianggap telah murtad karena mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, dan karena itu mesti dikeluarkan secara paksa dari Islam.

Ironisnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Menteri Agama, dan pihak-pihak yang mengaku tidak menyetujui anarkisme terhadap Ahmadiyah, yang terus memaksa agar Ahmadiyah menjadi agama baru di luar Islam, sebenarnya juga memakai pendekatan “perang melawan kemurtadan” secara gegabah. Dalam hal ini, perbedaan MUI dan Menteri Agama dengan kaum penyerang Ahmadiyah hanya terletak dalam hal metode, tapi tidak dalam tujuan. Saya sebut ironis karena majelis ulama, yang berlabel “Indonesia” di belakang, ternyata merubuhkan prinsip kebinekaan Indonesia. Ironis karena seorang menteri yang merupakan hasil pemilu demokratis ternyata mempunyai pandangan yang melenceng dari konstitusi demokratis yang menjamin hak setiap warga menjalankan agama sesuai dengan keyakinannya. Yang paling ironis, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membiarkan saja semua itu terjadi.

Lepas dari itu, kalau kita tinjau dari sudut doktrin dan sejarah Islam pun, pemakaian kerangka “perang melawan pemurtadan” untuk menyikapi Ahmadiyah sejatinya sama sekali tak berdasar. Patut diingat, sebutan “perang melawan kemurtadan” bukanlah kreasi Abu Bakr sendiri, melainkan penamaan belakangan dari para sejarawan muslim. Disebut demikian barangkali karena yang diperangi saat itu memang arus pemurtadan yang terkait dengan munculnya sejumlah nabi palsu. Dan gerakan nabi palsu pada masa itu berjalin berkelindan dengan upaya menggembosi kedaulatan kekhalifahan. (lalu muncul pertanyaan di otak kecil saya, apakah kemunculan ahmadiyah menghancurkan kedaulatan Indonesia?-red)

Penolakan membayar zakat bukan hanya pelanggaran terhadap rukun Islam, tapi juga sebentuk aksi makar. Ini karena, berbeda dengan ibadah salat yang hanya melulu menyangkut hubungan hamba dan Tuhannya, urusan zakat berkaitan dengan negara. Tambahan pula, para nabi palsu tersebut juga membangun kekuatan militernya sendiri. Musailamah, misalnya, menggalang tidak kurang dari 40 ribu anggota pasukan untuk melawan pasukan muslim dalam perang Yamamah, sampai-sampai armada muslim di bawah Khalid bin Walid sempat kewalahan pada awalnya. Karena itu, perang Abu Bakr melawan kemurtadan mesti dibaca sebagai sebuah tindakan yang lebih bersifat politis ketimbang teologis, yakni berhubungan dengan penumpasan terhadap kelompok pemberontak.

Karena itu, “perang melawan kemurtadan” versi khalifah Abu Bakr tidak bisa begitu saja diterapkan dalam konteks Indonesia sekarang. Taruhlah memang jemaah Ahmadiyah telah murtad karena mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Tapi bukankah sejauh ini mereka belum pernah membangun kekuatan militer untuk merongrong umat Islam dan pemerintahan yang sah seperti Musailamah pada masa khalifah Abu Bakr? Bukankah sejauh ini warga Ahmadiyah hanya menuntut untuk diberi ruang menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya? Kalau memang begitu, apakah tidak keliru kalau mereka diperlakukan seperti para pemberontak? (pertanyaan pun terjawab)

Ditinjau dari perspektif kaidah fiqh “hukum berporos pada alasan”, gerakan pemurtadan oleh para nabi palsu pada masa Abu Bakr memang wajib diperangi, karena saat itu kemurtadan identik dengan pemberontakan yang mengancam kedaulatan khalifah dan integrasi umat. Adapun kalau sekadar murtad saja tanpa dibarengi pemberontakan, hukum yang berlaku tentu tidak sama. Pada titik inilah kita bisa mengacu pada peristiwa korespondensi antara Nabi Muhammad dan Musailamah seperti saya paparkan di awal tulisan.

Di sinilah pemahaman tentang metodologi hukum Islam mutlak diperlukan dalam melihat pokok soalnya. Tanpa pengetahuan yang mumpuni tentang metodologi hukum Islam, keputusan yang muncul dan tindakan yang diambil mungkin saja tampak sesuai dengan ajaran syariat, tapi bisa jadi esensinya bertentangan dengan maqashid al- syari’ah (tujuan-tujuan syariat) yang lebih bersifat universal, seperti perlindungan terhadap hak-hak dasar manusia.

Lagi pula, satu-satunya dalil Al-Quran tentang kemurtadan sama sekali tidak menyeru kaum muslim untuk memerangi kaum murtad semata-mata karena kemurtadannya. Simaklah Surat Ali Imran ayat 90. Ayat ini tidak menyinggung soal perlunya menggunakan cara-cara kekerasan dan paksaan terhadap si murtad, karena Tuhanlah yang akan menjadi hakim atas perbuatannya di akhirat nanti.

Dalam kerangka Qurani semacam inilah kita bisa mengerti kenapa Nabi tidak menghukum Musailamah, yang tanpa tedeng aling-aling mengaku sebagai nabi. Bukan karena beliau mendiamkannya--toh Nabi melabelinya dengan gelar “Al-Kazzab”. Menurut saya, nabi bersikap seperti itu karena, dalam Al-Quran, hukuman terhadap si murtad memang sepenuhnya menjadi hak prerogatif Allah SWT. Nabi Muhammad hanyalah seorang manusia biasa yang bertugas menyampaikan risalah Ilahi. Beliau bukan Tuhan yang turun ke bumi. Itulah sebabnya Al-Quran menegaskan tidak ada paksaan dalam agama.

Kalau Nabi saja demikian sikapnya, alangkah lancangnya Front Pembela Islam (FPI), MUI, dan Menteri Agama yang merasa punya hak untuk mengambil alih wewenang Tuhan untuk mendaulat diri mereka sebagai hakim atas orang-orang yang dianggap murtad seperti terlihat dalam sikap mereka terhadap jemaah Ahmadiyah. Di sinilah saya kira umat Islam mesti memilih dalam bersikap, mau mengikuti cara-cara FPI, MUI, dan Menteri Agama, atau meneladan sikap Rasulullah.

*)
Akhmad Sahal, Kader NU, kandidat PhD Universitas Pennsylvania

http://www.tempointeraktif.com/hg/kolom/2011/02/16/kol,20110216-324,id.html


*Niatnya saya sih mau bikin tulisan kayak gini buat tugas Jurnalisme Online saya yang soal Ahmadiyah di Indonesia, tapi yaa sudahlah biarkan kandidat PhD Universitas Pennsylvania duluan deh yang bikin tulisan sekeren ini*aduh apasih gw* :P

Sabtu, 26 Februari 2011

Dear My Friend

My Friend,
My Dearest Friend,
Its almost a half years we don't share a things each other,
You are gone, we lost you in the middle of nowhere!!

My Friend,
My Dearest Friend,
We all know your secret,
We talk about it behind your neck,
With laugh, with smirk, we make some jokes sometimes (i know its rude, sorry)
But, we miss you
We really miss you,
I know someday you just gonna tell us,
So we can laugh together,

My Friend,
My Dearest Friend,
Don't hide it,
We still love you,
and we want you to be proud with who you are,
just like Lady Gaga said,

"God Has No Mistake, we are in the right track!!"
"No matter gay, straight or bi lesbian, transgendered life you are on the right track, baby, you was born to survive"


My Friend,
My dearest friend,
You are still our friend right?


*sepenggal kisah/prosa/puisi/cerpen/karya tulis/atau apalah (you name it) dengan menggunakan bahasa inggris seadanya ini hanyalah untuk penyemangat teman-teman kita yang diluar sana masih sungkan atau malu untuk bergaul karena merasa "beda", kita memang terlahir berbeda tapi ingat kitalah yang sempurna!*
*jenis tulisan: fiksi (yeah fiksi, kayak sepeda gaul) yang memotivasi (yeah motivasi, kayak mario teguh)*